Seranggamerupakan hewan beruas dengan tingkat adaptasi yang sangat tinggi. Rata-rata serangga yang kita lihat memiliki ukuran kecil, namun ada beberapa spesies serangga yang ukurannya berkali-kali lipat dari yang biasa kita saksikan. Berikut ini adalah spesies-spesies serangga yang dianggap terbesar di dunia. 93 94 PLANET FAUNA 1 MaksudSpesies Endemik. Jul 10, 2021. Pengertian Spesies endemik dan contohnya Mengintip Penghuni Asli Kepulauan Galapagos. Spesies endemik — pengertian dan contoh - ApaYangDimaksud.com. Fauna Peralihan - Pengertian, Contoh Hewan di Indonesia & Cirinya Lingkungan Hidup Ini: Pengertian Spesies Asli, Endemik, dan Introduksi. Taman Hutanhujan tropis di Indonesia tersebar di wilayah pulau Kalimantan, pulau Sumatera, dan pulau Papua. Pembahasan Flora dan fauna di dunia tersebar tidak merata. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor berikut: • Klimatik, yaitu faktor persebaran yang dipengaruhi oleh kondisi iklim, seperti curah hujan, tekanan udara, dan angin. Empatdiantaranya jenis primata yang hanya dimiliki oleh Kepulauan Mentawai yaitu bilou atau siamang kerdil (Hylobates klosii), simakobu atau monyet ekor babi (Simias concolor), bokkoi atau beruk mentawai (Macaca pagensis), dan joja atau lutung mentawai (Presbytis potenziani). Padamasa ini, Kepulauan Galápagos merangkumi lebih daripada 1430 spesies yang diperkenalkan; iaitu spesies yang tidak endemik di rantau itu. Oleh itu, spesies ini harus diangkut (secara sukarela atau secara tidak sengaja) oleh manusia, kadang-kadang mengubah keseimbangan ekosistem, dan membahayakan kehidupan spesies asli Galápagos. 1 The Pinta Island tortoise Hewan yang menghuni kepulauan pinta ini Termasuk dalam spesies Giant Galapagos Turtoise. karena apa? karena di dunia hanya menyisakan 1 saja yang masih hidup, hal ini menutup kemungkinan untuk dilestarikan dan di kembang biayan lagi 2. Baiji (Yangtze River Dolphin) untuk hewan yang satu ini adalah lumba-lumba air tawar hewan ini Hanya bisa kita ketemukan di di KBRN Yogyakarta : Imam Taufiqurrahman bersama sejumlah peneliti, melakukan eksplorasi dan pendataan spesies burung, di Kepulauan Mentawai sejak tahun 2017. Hasilnya, sebanyak 82 jenis burung yang berbeda, didokumentasikan dalam sebuah buku setebal 104 halaman, berjudul burung-burung Kepulauan Mentawai. Beragam foto Primataendemik Kepulauan Mentawai, Indonesia. Populasinya sekitar 3.347 dan masuk dalam daftar 4 kali berturut-turut sejak 2002 hingga 2008. Delacour's Langur (Trachypithecus delacouri). Primata asal Vietnam dengan populasi yang hanya 200 ekor. Masuk daftar 5 kali berturut-turut sejak 2000. SpesiesEndemik Papua 1. Striking damselfish adalah salah satu dari 1.060 spesies baru yang ditemukan pada atau dekat pulau New Guinea (lihat peta) antara tahun 1998 dan 2008, menurut sebuah laporan baru. Pulau tropis terbesar bumi terbagi antara Indonesia di barat dan Papua Nugini di timur. 2. BerandaInspirasi 4 Primata Endemik Kepulauan Mentawai yang Terancam Punah. 4 Primata Endemik Kepulauan Mentawai yang Terancam Punah. admin. 05/12/2021 105 views. Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, dikenal dengan keunikan budaya yang masih terjaga serta kawasan pantai eksotis dengan ombak besar. Tak heran jika Mentawai sering jadi Berukmentawai oleh masyarakat lokal disebut sebagai bokoi. Sedangkan dalam bahasa Inggris, binatang endemik Kepulauan Mentawai ini disebut sebagai Pagai Island Macaque, atau Pagai Macaque.Sedangkan dalam bahasa ilmiah (latin), monyet langka ini dinamakan Macaca pagensis yang bersinonim dengan Macaca mentaveensis (de Beaux, 1923). 6) Beruk mentawai (Macaca pagensis). Satwa endemik dan langka dari Kepulauan Mentawai ini mempunyai populasi antara 2.100--3.700 ekor. (7) Orang utan sumatera (Pongo abelii). Hewan langka ini berpopulasi sekitar 7.300 ekor (2004). (8) Simpai mentawai (Simias concolor). Endemik Kepulauan Mentawai ini berpopulasi 6.000--15.500 ekor (2006). Translationsin context of "SPESIES BURUNG ENDEMIK" in indonesian-english. HERE are many translated example sentences containing "SPESIES BURUNG ENDEMIK" - indonesian-english translations and search engine for indonesian translations. Saatini, Kepulauan Galapagos mencakup lebih dari 1.430 spesies yang diperkenalkan; yaitu, spesies yang tidak endemik di wilayah itu. Akibatnya, spesies ini harus diangkut (secara sukarela atau tidak sengaja) oleh manusia, kadang-kadang mengubah keseimbangan ekosistem, dan membahayakan kehidupan spesies asli Galapagos.. Dari29 mamalia yang tercatat di Pulau Siberut terdapat 21 spesies endemik. Empat diantaranya jenis primata yang hanya dimiliki oleh Kepulauan Mentawai yaitu bilou atau siamang kerdil (Hylobates klossii), simakobu atau monyet ekor babi (Simias concolor), bokkoi atau beruk mentawai (Macaca pagensis), dan joja atau lutung mentawai (Presbytis HsiW0. Creative Commons/Sakurai Midori Beruk Mentawai, hewan endemik Mentawai – Pernahkah teman-teman mendengar hewan bernama beruk mentawai? Beruk Mentawai atau bokoi ini memiliki nama ilmiah Macaca pagensis. Beruk Mentawai merupakan salah satu hewan endemik Kepulauan Mentawai, Sumatera. Dalam bahasa Inggris hewan ini dikenal dengan nama Mentawai Island Macaque. Berstatus Terancam Punah Beruk Mentawai merupakan salah satu fauna yang terancam punah. Primata ini memiliki rambut berwarna cokelat gelap pada bagaian belakang tubuh mereka. Sementara pada bagain leher, bahu, dan bagain bawah tubuh, warnanya cokelat pucat. BACA JUGA Uniknya Monyet Jepang yang Suka Berendam di Air Panas Perbedaan Beruk Mentawai dengan Beruk Lainnya O iya, beruk itu ada banyak jenisnya. Nah, yang membedakan beruk mentawai dengan beruk lainnya adalah bagian pipi yang berwarna lebih gelap. Selain itu, mahkota beruk mentawai berwarna cokelat. Lalu rambut pada dahi lebih panjang serta memiliki kantong pipi yang terlihat jelas. Artikel ini merupakan bagian dari Parapuan Parapuan adalah ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya. PROMOTED CONTENT Video Pilihan Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat merupakan salah satu pulau terindah di Indonesia yang patut dikunjungi. Terdiri dari empat pulau besar yaitu Siberut, Sipora, Pagai Selatan dan Pagai Utara serta terdapat 94 buah pulau kecil, menjadikan Mentawai pulau yang sangat indah dan menjadi tujuan wisata. Sebagai pulau terluas diantara tiga pulau lainnya, Pulau Siberut memiliki kekayaan jenis tumbuhan dan satwa endemik, sehingga sering menjadi tempat penelitian. Tercatat ada 846 jenis tumbuhan, dari 390 genus dan 131 suku, meliputi pohon, semak, herba, liana dan epifit. Sebanyak 503 jenis tumbuhan diantaranya dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bahan obat tradisional. Pulau Siberut menjadi kawasan yang fenomenal dan unik karena tingkat endemisitas yang sangat tinggi yaitu 15% flora dan mencapai 65% untuk mamalia. Dari 29 mamalia yang tercatat di Pulau Siberut terdapat 21 spesies endemik. Empat diantaranya jenis primata yang hanya dimiliki oleh Kepulauan Mentawai yaitu bilou atau siamang kerdil Hylobates klosii, simakobu atau monyet ekor babi Simias concolor, bokkoi atau beruk mentawai Macaca pagensis, dan joja atau lutung mentawai Presbytis potenziani. Bilou atau siamang kerdil Hylobates klosii merupakan jenis primata yang paling terkenal di Mentawai. Bilou memiliki bulu-bulu yang jarang berwarna hitam gelap dan terdapat selaput antara jari kedua dan ketiga. Primata monogami ini hidup secara berkelompok yang terdiri dari induk jantan dan betina dengan anak-anaknya yang belum dewasa, dengan satu keluarga rata-rata tiga sampai empat individu. Sedangkan jumlah anggota dalam satu kelompok dapat mencapai 11 individu. Sebagai jenis arboreal tertua yang masih hidup, bilou merupakan jenis primata yang paling banyak menghabiskan waktu di atas pohon yang tinggi lebih dari 20 meter dengan pakan yang disukainya adalah Ficus sp, nibung liana dan tangkai. Pekik bilou paling sederhana, lebih panjang dan bervariasi diantara pekikan jenis kera arboreal lainnya. Siamang kerdil ini jarang turun ke tanah, karena termasuk satwa yang pergerakannya banyak menggunakan lengan-lengan yang panjang untuk berpindah/melompat dari satu pohon ke pohon yang lain sehingga sulit bergerak di permukaan tanah. Karena arboreal, menjadikan bilou jenis primata yang hidupnya paling dipengaruhi oleh kegiatan penebangan hutan. Primata Arboreal Unik Sedangkan joja atau lutung mentawai Presbytis potenziani mempunyai bentuk yang paling indah diantara primata endemik, dengan punggung hitam berkilat, bagian perut berwarna coklat tua, putih sekitar muka dan leher dan ekor yang panjang dan hitam seperti sutera. Joja atau lutung mentawai Presbytis potenziani, satu primata endemik Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Foto Meskipun termasuk dalam genus tropis Asia yang besar dan menyebar luas, joja memiliki keunikan dalam banyak hal. Betina dewasa dan jantan pasangannya ikut serta dalam pekikan dan peragaan tantangan terhadap kelompok lain, tidak seperti kera arboreal jenis lainnya, karena hanya jantan saja yang melakukan kedua hal tersebut. Joja biasanya mengeluarkan bunyi sebelum fajar dan dijadikan sebagai tanda teritori kelompoknya sehingga kelompok-kelompok binatang lainnya dapat menghindarkan diri. Primata arboreal sejati ini, hampir sepanjang hidupnya tinggal di pohon dan jarang sekali turun ke tanah. Makanannya terdiri dari setengahnya berupa buah-buahan, 35% daun-daun dan 15% biji-bijian, kacang, bunga dan materi tumbuhan lainnya. Bekantan Mentawai Simakobu atau monyet ekor babi Simias concolor termasuk kedalam keluarga bekantan. Tetapi simakobu sangat berlainan dari bekantan dan semua bentuk monyet lainnya karena ekornya yang pendek menyerupai ekor babi, badan yang gemuk pendek dan anggota-anggota badan yang sama panjang. Ada dua jenis warna bulu simakobu yaitu kelabu tua dan keemasan. Simakobu atau monyet ekor babi Simias concolor, salah satu primata endemik Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Foto Wikimedia Primata ini juga arboreal, hidup di atas pohon dan memakan daun-daunan. Simakobu hidup dalam satu kelompok yang terdiri dari 1 betina, 1-5 jantan dewasa dan anak-anak. Jantan dewasa memiliki ukuran yang lebih besar dari betina dewasa dan memiliki gigi taring dua kali lebih panjang dari gigi taring betina dewasa. Monyet ekor babi sangat mudah diburu. Seekor simakobu seringkali melarikan diri dalam jarak dekat saja dan kemudian duduk bersembunyi dalam kanopi sehingga menjadi sasaran empuk bagi pemburu. Simakobu diburu dua kali lebih banyak dari jenis lainnya. Jika satu kelompok melarikan diri, betinanya akan tertinggal dibelakang sehingga betina jenis Simakobu lebih sering dibunuh dari pada jantannya. Beruk Mentawai Bokkoi atau beruk Mentawai Macaca pagensis sangat erat hubungannya dengan beruk yang ada di Sumatera, Kalimantan dan benua Asia Tenggara, tetapi mempunyai warna bulu yang lebih gelap yang kontras sekali dengan bagian pipi yang putih serta pekik yang unik. Beruk ini tidak hanya hidup di pulau besar, tetapi juga hidup di pulau-pulau kecil seperti Pulau Siberut. Bokkoi atau beruk Mentawai Macaca pagensis, salah satu primata endemik Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Foto Wikipedia Primata ini juga mengeluarkan bunyi sebelum fajar tetapi tidak menunjukkan pekikan teritori. Bokkoi jantan berulangkali mengeluarkan pekikan supaya terus berhubungan dengan anggota kelompoknya yang juga menjawab dengan jerit dan suara-suara yang biasa mereka keluarkan untuk tetap berhubungan satu sama lain dalam hutan lebat. Dalam satu kelompok Bokkoi terdiri dari 30 individu, umumnya terdiri satu jantan dengan dari 8-10 individu saja. Satu kelompok akan terabgi menjadi beberapa kelompok kecil untuk mencari makanan dan kembali bergabung pada waktu malam hari. Habitat bokkoi sangat luas, dari daerah mangrove ke hutan primer dipterocarpaceae dan hutan yang ditebang serta ladang pertanian dimana mereka sering menemukan makanan. Karenanya primata ini paling sedikit diselidiki. Dagingnya yang lezat, menjadikan primata ini sering diburu dan dikonsumsi di beberapa daerah. Populasi Cenderung Menurun Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat UMSB, Yumarni, yang ditemui Selasa 24/02/2015 menyebutkan pihaknya pada Juni 2014 telah melakukan monitoring populasi bilou, simakobu, bokkoi dan joja di enam titik dalam areal Taman Nasional Siberut. Dengan metode sistem jalur line-transect, monitoring bertujuan mengetahui perubahan komunitas popuasinya. Hasilnya, keempat primata itu masih dapat ditemukan, khususnya di daerah Bekemen, Matotonan, Kaleak, Sirisura, Sagalubek dan Saibi. “Sebaiknya harus ada kegiatan penelitian berupa studi populasi mengenai kualitas habitat dan ketersediaan pakan satwa ini di alamnya, agar memudahkan dalam melakukan monitoring terhadap perkembangan populasi primata endemik ini,” katanya. Yumarni mengatakan populasi primata itu, terutama bilou cenderung menurun, karena ancaman perburuan dari masyarakat setempat untuk kegiatan ritual adat dan prasyarat pengobatan oleh Sikerei dukun Mentawai. Bokkoi dan simakobu merupakan hewan buruan saat upacara eneget yakni upacara yang menandai seorang anak laki-laki masuk fase dewasa. Biasanya si anak akan dibawa ke dalam hutan dengan membawa panah serta busur sebagai alat untuk berburu. Staf Hukum dan Kebijakan dari Yayasan Citra Mandiri Mentawai YCMM Pinda Tangkas Simanjuntak, mengakui adanya perburuan oleh masyarakat tapi hanya dilakukan satu kali dalam setahun yaitu pada saat bulan purnama dan hanya untuk kebutuhan ritual atau upacara adat semata. Sehingga dia membantah jika kepunahan primata endemik Mentawai itu disebabkan oleh aktifitas perburuan yang dilakukan masyarakat. Populasi primata itu menurun akibat berkurangnya tutupan lahan untuk operasional perusahaan kayu semenjak 1970-an di Kepulauan Mentawai. Primata endemik itu mungkin hidup dan berkembang di areal-areal konsesi perusahaan. Saat ini mungkin hanya dalam kawasan Taman Nasional Siberut saja populasi primata endemik Kepulauan Mentawai ini bisa bertahan, sebab tutupan hutannya masih terjaga dan pakannya pun tersedia. Pinda pesimis primata ini dapat berkembang baik di luar itu. BKSDA Sumatera Barat tengah meminta pengembalian primata endemik Kepulauan Mentawai, bilou Hylobates klosii yang sempat dipelihara oleh warga Bungus, Kota Padang. Foto BKSDA Kepala Balai Taman Nasional Siberut, Toto Indraswanto kepada Mongabay pada Selasa 24/02/2015 mengatakan meski belum masuk dalam 14 jenis satwa dilindungi yang dalam Rencana Strategis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam PHKA pada tahun 2009-2014, bilou termasuk dalam satwa yang dipantau perkembangannya. Pada Renstra PHKA tahun 2015-2019 yang meningkatkan 14 jenis menjadi 25 jenis satwa, bilou masuk sebagai satwa dilindungi yang akan dipantau perkembangannya khusus di kepulauan Mentawai. Pelaksanaan Renstra itu yang menargetkan peningkatan 10 persen populasi selama 5 tahun itu akan dievaluasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sedangkan Biodiversity and Forest Carbon Spesialist Fauna and Flora International FFI Joseph Adiguna Hutabarat, mengatakan jumlah populasi bilou bervariasi, tergantung pada metode sampling yang digunakan, areal yang menjadi fokus penelitian dan kondisi pada saat dilakukan penelitian. Dari hasil penelitian populasi bilou yang dilakukan oleh Chivers 1977 mencapai ekor, Whitten 1980 mencapai 54,000 ekor, Paciulli 2004 mencapai 3,500 ekor, Whittaker 2005 mencapai 20,000 hingga 24,000 ekor, Quinten et al, 2009 mencapai 9,3 ‐7,6 ekor per kilometer persegi, Bismark 2006 mencapai 8,14 individu per km2, Höing et al. 2013 berkisar antara 28 – 60 ekor. Bilou yang berstatus terancam punah endangered menurut International Union for Conservation of Nature IUCN, kecenderungan populasinya menurun. Sedangkan data Global Forest Wacth menunjukkan perubahan tutupan lahan di Kepulauan Mentawai pada 2001 seluas 498,118 hektar, menjadi 486,543 hektar pada 2012, berkurang 1,052 hektar dengan tingkat deforestasi 0,21 persen setiap tahunnya. Melihat tingkat deforestasi yang kecil dan perburuan adat hanya sekali setahun, Joseph mengatakan populasi bilou turun akibat perdagangan satwa. Oleh karena itu, diharapkan adanya proteksi habitat dan sosialisasi pentingnya konservasi bilou kepada masyarakat. Juga perlu dilakukan penelitian untuk serta mengetahui kondisi populasi, sifat dan perilaku primata endemik tersebut. Artikel yang diterbitkan oleh beruk mentawai, bilou, bksda sumatera barat, bokkoi, ffi, joja, lutung mentawai, monyet ekor babi, primata endemik kepulauan mentawai, satwa endemik mentawai, siamang kerdil, simakobu 13 Oktober 2021 WIB • 3 menit Selain dikenal karena budaya dan objek wisatanya, Mentawai juga memiliki kuliner tradisional yang layak mendapatkan sorotan. Tak hanya sagu dan keladi yang jadi makanan pokok, masyarakat Mentawai juga mengolah bahan-bahan tak biasa sebagai masakan lezat, seperti ulat kayu, ulat sagu, hingga kepiting yang menjadi endemik daerah tersebut. Mentawai sejatinya merupakan sebuah kabupaten kepulauan yang terletak di pulau Sumatra dan daerahnya dikelilingi oleh Samudera Hindia. Mentawai menjadi bagian dari serangkaian pulau non-vulkanik dan gugus kepulauan tersebut merupakan puncak-puncak dari punggung pegunungan bawah laut. Kabupaten tersebut terdiri dari empat kelompok pulau utama, yaitu Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan yang mayoritas dihuni oleh masyarakat Suku Mentawai dan Suku Minangkabau. Jika berkesempatan mengunjungi Mentawai, tentunya harus meluangkan waktu untuk mencicipi kulinernya yang khas dan sulit ditemukan di daerah lain. Berikut daftarnya Mencicipi Nasi Menok dan Tepo Tahu, Hidangan Tradisional Khas MagetanAnggau siboik-boikHidangan yang satu ini agaknya terasa lebih 'normal' dari dua makanan sebelumnya. Namun, anggau siboik-boik juga terbilang unik karena bahan dasarnya adalah hewan endemik Mentawai. Anggau merupakan hewan jenis kepiting dengan cangkang berwarna ungu, badannya berwarna hitam, sedangkan kaki dan capitnya kemerahan. Biasanya musim anggau adalah Agustus hingga September. Karena waktunya sebentar, tak heran bila masyarakat berbondong-bondong mendapatkan kepiting ini. Bahkan, musim anggau ini dijadikan agenda wisata oleh pemerintah setempat yang dikenal dengan nama Festival Muanggau. Untuk membuat hidangan anggau siboik-boik, kepiting harus dibersihkan dan dibelah jadi dua bagian. Kemudian, dibumbui dengan bawang merah, bawang putih, jahe, daun kunyit, dan lada. Semua bahan dicampur jadi satu, ditambahkan air, dan direbus hingga matang serta bumbunya meresap. Setelah matang, anggau biasa disantap dengan subbet, hidangan perpaduan antara keladi, pisang, dan kelapa yang dibentuk bulat-bulat serupa klepon. Ragam Kuliner Khas Nias dengan Nama Unik, Hambae Nititi hingga Gowi NifufuBatraSeperti halnya di Papua, masyarakat Suku Mentawai juga terbiasa menyantap ulat sagu yang disebut batra. Biasanya, batra dikonsumsi usai panen sagu, yang akan menjadi makanan utama mereka. Setelah sagu ditebang, dalam rentang waktu tiga bulan akan muncul larva dan akan dipanen sebagai lauk. Paling mudah mengolah ulat sagu ini dengan dijadikan sate. Cukup ditusuk di bambu, diberi sedikit garam, dan dibakar di atas bara api. Setelah matang, sate batra akan terasa gurih dan beraroma lezat dari proses pembakaran. Selain dibuat sate, batra juga bisa dimasak di dalam bambu. Untuk cara yang satu ini, perut ulat harus diiris terlebih dahulu kemudian dimasukkan ke dalam bambu, dan dibakar. Meski dimasak tanpa air, saat matang, batra akan berair berwarna kekuningan dan siap disantap dengan sagu. Kemudian, batra juga bisa ditumis dengan campuran air kelapa muda atau diasap di atas perapian sampai warnanya menghitam dan kering. Mirip Roti Jala India, Ragit Kudapan Khas Palembang yang LegitToek Hidangan selanjutnya ini mungkin agak mirip dengan batra, yaitu sama-sama dari ulat. Bedanya, toek merupakan hewan serupa cacing atau ulat berwarna putih kekuningan. Biasanya toek didapatkan dari hasil rendaman kayu sungai selama tiga bulan. Namun, kayu yang dipakai pun bukan sembarangan, melainkan kayu tumung, kayu bak-bak, kayu mai geuk-geuk, dan kayu etet. Kayu tumung bisa dibilang paling sering dipakai masyarakat Suku Mentawai karena proses pembuatan toeknya lebih cepat. Kayu tumung Campnosperma auriculatum tumbuh di hutan-hutan dan cukup mudah ditemukan. Setelah direndam tiga bulan di sungai, kayu diangkat dan dibelah dengan kapak. Di dalam kayu tersebut akan terdapat banyak lubang tempat bersarang ulat. Setelah dibersihkan, toek bisa langsung dimakan dan bahkan lebih nikmat disantap mentah-mentah. Namun, bagi yang belum terbiasa, toek juga bisa ditumis dengan bumbu seperti bawang merah dan cabai, kemudian diberi garam dan perasan jeruk nipis. Toek tak selamanya mudah ditemukan sebab proses pembuatannya tergantung pada cuaca. Jika sedang kemarau, toek tidak akan jadi karena air di sungai pun kurang lancar. Namun, pada musim hujan, ketika sungai deras pun, toek bisa kurang bagus karena air cenderung kurang bersih. Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia. Padang, ANTARA News - Empat spesies kera endemik di Siberut, satu Pulau di Kab. Kepulauan Mentawai, Sumbar, yakni bilou atau siamang kerdil hylobtaes klosii, simakobu atau monyet ekor babi siamias concolor, bokkoi atau beruk mentawai macaca pagensis dan joja atau lutung mentawai presbytis potenziani, kini terancam punah. "Punahnya spesies satu-satunya di dunia itu bisa terjadi akibat pembalakkan serta perburuan yang hingga kini masih tinggi," kata Frans Romeo, anggota Tim Terpadu Penelitian Hutan Produksi Siberut, Walhi Sumbar kepada ANTARA di Padang, Selasa 21/3. Menurut dia, perburuan spesies langka bernilai komersial itu cukup tinggi. Selain pasar lokal, ia tidak memungkiri satwa langka itu juga diperdagangkan ke luar negeri. "Pulau Siberut tergolong pulau kecil tapi mempunyai kekayaan primata endemik yang tinggi," katanya. Ia mengatakan, spesies itu sangat rentan terhadap perubahan habitat dan tata guna lahan, utamanya konversi hutan primer untuk perkebunan. Empat spesies langka itu, tambah dia, juga rentan terhadap aktivitas konversi fungsi non hutan lainnya maupun penebangan hutan primer dalam praktek HPH Berdasarkan penelitian LIPI 1995, kata Frans, bilou menghabiskan 66,66 persen waktunya di hutan primer, sedangkan joja 53,35 persen, simakobu 50,02 persen dan bokkoi 53,20 persen. "Satwa langka tersebut banyak yang punah ketika mereka ke luar dari habitatnya," katanya.* COPYRIGHT © ANTARA 2006

berikut ini spesies endemik kepulauan mentawai kecuali